Pria kelahiran Inggris ini memiliki reputasi sebagai "tukang berkelahi" di London, di masa setelah Perang Dunia II dan mendapatkan dirinya berada dalam masalah serius saat ia 'merebut' kekasih dari geng lawan. Takut akan keselamatan anaknya yang berusia 15 tahun, Ibu Nigel mengirim Nigel ke Australia pada tahun 1959 dimana Nigel kemudian berkeja di perkebunan di Viktoria. Selanjutnya, Nigel berkeliling Australia selama 4 tahun sembari berkerja sebagai pemotong kayu dan tebu, pemetik buah, pemburu kangguru, dan membantu pembangunan rel kereta Sydney-Melbourne.

 

Kemudian, kegagalan pernikahan membawa Nigel bersama beberapa teman hippie-nya ke Bali, dan memutuskan untuk tinggal di Bali. Disinilah ia jatuh cinta dengan seorang gadis Bali bernama Yanie, yang kemudian menikah di tahun 1985. Mereka berdua berhasil merintis sebuah restoran bernama Yanie's Restaurant, dan pada tahun 1990 mendirikan salah satu perusahaan pariwisata yang terkenal di Bali: Bali Adventure Tours.

 

Enam tahun kemudian Nigel membawa sembilan ekor gajah yang berhasil diselamatkan dari Sumatera dan ditempatkan di sebuah desa terpencil yaitu Desa Taro. Nigel kemudian memperluas lahan hingga 3,5 hektar dan mendesain setiap sentinya menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi para gajah. Di tahun1996 itulah Elephant Safari Park 'lahir.' Melalui usaha-usaha penyelamatan dan program pengembang biakan kelas dunia, saat ini jumlah gajah yang ada di taman adalah 30 ekor, dimana tiga diantaranya terlahir di taman di tahun 2009.

 

"Bayi-bayi gajah memilik daya tarik tersendiri," ungkap Nigel,"Karena tidak seperti kebun binatang di Sydney dan Melbourne, disini  Anda benar-benar dapat berinteraksi dengan mereka. Anda dapat menyentuh mereka dan memberi makan mereka. Itu saja sudah merupakan sebuah pengalaman yang spesial."

 

Elephant Safari Park juga memiliki penginapan 'bintang lima,' dimana para pengunjung dapat menginap dan menikmati sajian khusus dan berinteraksi lebih dekat lagi dengan gajah-gajah di taman.

 

"Para pengunjung dapat bermeditasi dengan gajah, mencium mereka dan menghabiskan waktu dengan mereka hingga malam datang," ucap Mason.

 

"Setiap gajah dari total 30 gajah 'penghuni' Elephant Safari Park memiliki kepribadian yang berbeda-beda, jadi keanekaragaman jenis interaksi tampaknya berjalan dengan baik  untuk mereka."

 

"Namun ada bagian yang sangat serius dari bisnis ini. Gajah Sumatera adalah salah satu spesies langka dan hampir punah dari muka Bumi. Menurut Mason, terdapat kurang dari 1,100 ekor gajah yang tinggal di alam liar. Habitat alami mereka di Sumatera, pulau terbesar di Indonesia, berada dalam kondisi buruk yang dan sangat sulit untuk diperbaiki."

 

"Di luar fasilitas kami, keadaan lingkungan bagi gajah-gajah Sumatera tidaklah baik, karena hutan-hutan di Sumatera banyak yang sudah ditebang," Nigel menjelaskan. "Sayangnya, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh seorang Australia kebanyakan seperti saya ini. Korupsi dan ketamakan sudah menghancurkan hutan hujan Indonesia, dan hingga perilaku itu dapat diubah maka situasi seperti ini akan terus terjadi."

 

"Sejak tahun 1985, hampir separuh hutan di Sumatera telah disapu bersih oleh usaha kayu, atau berubah fungsi menjadi kebun kelapa sawit. Dan menurut World Wildlife Fund for Nature (WWF), sejak saat itu pula lah populasi gajah menurun drastis hingga 85%. Karena habitat alami gajah berkurang, maka mereka memakan tanaman pangan, hingga akhirnya mereka dianggap sebagai gangguan oleh masyarakat. Pada saat itu, membunuh gajah karena dianggap sebagai hama merupakan hal yang lumrah."

 

"Jika berbicara mengenai bisnis yang berhubungan dengan hewan, lazimnya hewan tersebut tidak diperhatikan, atau bahkan dieksploitasi dan disiksa," ketus Nigel. 

 

Gajah yang terselamatkan dibawa ke sebuah lokasi, yang menurut Nigel lebih mirip dengan sebuah 'kamp konsentrasi.' Lokasi tersebut sebenarnya berfungsi sebagai tempat mengungsi, namun kurangnya dana dari pemerintah membuat kondisinya mengerikan, banyak hewan yang mati disana. Sekitar setengah dari jumlah populasi gajah di Sumatera sekarang ada di sana.

 

Tahun 2002, Nigel Mason menyelamatkan 10 gajah Sumatera yang kelaparan termasuk diantaranya bayi gajah dari salah satu kamp. Operasi besar-besaran, konvoi truk dan perjalanan sejauh 3.000 km dibatalkan karena adanya perubahan hukum yang dicetuskan oleh Pemerintahan Republik Indonesia. Beberapa bulan kemudian, ada gajah yang mati.

 

"Meninggalkan Riski, seekor bayi gajah di kamp adalah pengalaman saya yang paling tak terlupakan," ungkap Nigel. "Saya tahu gajah itu akan mati dan memang akhirnya mati. Karena itu saat bayi gajah ke-tiga lahir di Elephant Safari Park, kami menamainya Riski."

 

Di tahun 2005, Mason kembali ke kamp dan berhasil membawa 10 gajah ke Bali. Kegagalan misi pertama dan percobaan sebelumnya yang berlangsung selama 100 jam diabadikan dalam bentuk film dokumenter berjudul Operation Jumbo yang sudah ditayangkan di National Geographic Channel.

 

Saat ini Elephant Safari Park sudah dibuka selama 14 tahun dan secara 'reguler' terpilih sebagai atraksi nomor satu yang harus dilihat di Bali. Tripadvisor.com memberikan penghargaan 4½ Star Certificate of Excellence, dan juga memenangkan kategori 'Best Management' pada Penghargaan Wisata Lingkungan Indonesia 2010. Almarhum Steve Irwin menyatakan bahwa ini adalah taman gajah terbaik yang ia pernah kunjungi.

 

Sisi lain dari keberhasilan taman dalam melestarikan hewan, Elephant Safari Park menjadi tujuan wisata bagi para pesohor, contohnya di tahun 2010 mendapat kunjungan dari Julia Roberts, Tony Blair, Calvin Klein, dan Michael Franti. Selain dukungan dari para selebritis, Nigel mengatakan bahwa dukungan yang paling konsisten berasal dari teman-teman lamanya di Australia.

  • Press Release

  • Kabar Terkini

  • Paket-Paket Menarik

 
 
 
 
Anda di sini: Home Tusk Force

bat logo

Adventure House
Jl. By Pass Ngurah Rai
Pesanggaran (80361)
Bali, Indonesia
Tel: (62-361) 721480
Fax: (62-361) 721481
e: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
w: www.baliadventuretours.com