Ketika diperkenalkan oleh Nigel dan Yani pada tahun 1980-an di Bali, White Water Rafting meraih kesuksesan besar hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat. Banyak yang mengikuti jejak Nigel dan Yani (hingga kini tercatat ada sekitar 35 perusahaan yang bergerak di bidang yang sama – meskipun sebagian tidak berhasil bertahan). Singkat kata, Bali Adventure Rafting adalah 'langkah' pertama dari sebuah proyek, yang nantinya, akan bernilai jutaan dolar.

 

 

Arung Jeram yang dirintis oleh Nigel dan Yani memang merupakan kisah sukses yang spektakuler, namun uniknya bisnis pertama pasangan ini adalah di bidang restoran dan bar di daerah Kuta: Yani's. Di tahun 1980-an Nigel menangkap peluang untuk memenuhi permintaan pasar Australia yang pada saat itu baru mulai berkembang, khususnya rumah makan. Klise memang; kesuksesan mereka adalah hasil dari kerja keras, pengalaman, dan pengorbanan pribadi.

 

 

Dimulai dari nol, meminjam modal usaha dari sana-sini untuk memulai usaha mereka, hingga sekarang terbukti bahwa bisnis kecil-kecilan ini 'hanyalah' awal dari 'petualangan' selama puluhan tahun ke depan yang turut mewarnai perkembangan industri pariwisata di Bali secara umum. Dari tempat dimana Nigel, Yani beserta keluarga mereka tinggal lah makanan-makanan berkualitas dihasilkan: makanan 'rumahan' yang terbukti sangat digemari oleh wisatawan-wisatawan Australia.

 

 

Di siang hari, pasangan ini 'berkeliaran' di jalanan untuk menyebarkan selebaran restoran mereka, agar rumah makan mereka dipenuhi tamu di malam harinya. Seiring dengan waktu, Yani's menjadi 'menu' wajib dari rencana liburan para wisatawan Australia.

 

 

 

White Water Rafting mulai beroperasi pada tahun 1989. Memang benar: perencanaan yang matang; faktor keselamatan; kualitas produk; dan pemasaran merupakan aspek-aspek utama dari bisnis ini. Namun 'bumbu rahasia' yang paling penting adalah determinasi dan keyakinan Nigel dan Yani. Meskipun sempat mendapat 'cobaan' berat dari pihak pemerintahan daerah, kolaborasi Nigel dan Yani lah yang 'membangunkan' kembali White Water Rafting pada tahun 1996 setelah 2 tahun vakum.

 

 

Selama masa 'hibernasi' tersebut, Bali Adventure Rafting tetap giat berpromosi di sebuah surat kabar, hingga suatu hari seorang oknum yang mengaku berasal keluarga Mason menghentikannya. Beberapa minggu kemudian, surat kabar yang dimaksud menghubungi keluarga Mason yang terlanjur kecewa. Di kemudian hari terungkap bahwa oknum tersebut ternyata adalah pegawai Gubernur pada saat itu.

 

 

Jeda dua tahun tersebut tidaklah mengalihkan Nigel dari hasratnya: alam. Dengan biaya sendiri, ia bersama dengan istri dan anaknya menanam sekitar 200,000 pohon bakau di lahan berlumpur. Antusiasme yang didasari oleh cinta tersebut berlanjut hingga 10 tahun, tahun-tahun yang panjang ketika mereka dicela dan, seakan belum cukup: dituduh sedang berusaha untuk mengembangkan sebuah wahana pariwisata baru di tanah milik pemerintah. Usaha mereka berakhir pada tahun 2005 ketika pemerintah memerintahkan agar pohon-pohon bakau tersebut ditebang, dengan alasan bahwa di lahan tersebut akan dibangun fasilitas selokan.

 

 

 

Elephant Safari Park di Taro -dekat Ubud, merupakan milik perusahaan yang paling bernilai. Lahan seluas 3.5 hektar ini didiami 30 ekor gajah yang hidup di dalam fasilitas berkelas internasional. Elephant Safari Park diakui secara luas sebagai wahana terbaik di jenisnya oleh media, program televisi internasional, dari kalangan selebritas hingga para ahli lingkungan.

 

 

'Beberapa' fasilitas yang dapat ditemui di Elephant Safari Park antara lain: akomodasi mewah; restoran berstandar internasional; beberapa bar; sebuah museum; pusat informasi mengenai gajah; butik untuk oleh-oleh; spa; sebuah paviliun untuk melangsungkan pernikahan; pusat kebugaran; helipad; sebuah fasilitas yang mencakup laboratorium penelitian, teknik mesin, hingga pusat pelatihan berkebun; binatu hotel; tiga areal parkir yang luas beserta areal parkir khusus karyawan; area pengolahan kompos; pembangkit listrik; sebuah kompleks yang terdiri dari dapur hingga toko roti. Dari danau pemandian dan tempat bermain gajah, hingga kolam ikan Amazon. Wow!

 

 

Nigel dan Yani telah 'menggelontorkan' sekitar USD 1,5 juta untuk membangun 'impian' mereka ini. Hasrat dan keinginan mereka yang kuat tidak hanya tercermin di sana, tengoklah Bali Bird Park -dimana mereka sempat menjadi pemegang saham mayoritas. Pasangan energik ini mencurahkan semua energi dan antusiasme untuk memperbaiki wahan ini secara total, yang tentunya diiringi dengan lonjakan drastis dari segi jumlah pengunjung.

 

 

Tindakan yang diambil oleh Nigel dan Yani terhadap pegawai yang terbukti mencuri uang perusahaan sebesar USD 12,000 setiap bulannya direspon oleh konfrontasi dari pihak serikat buruh, lalu karyawan yang marah, serta setumpuk permasalahan lainnya yang mengekor. Di titik ini lah mereka memutuskan untuk 'melepas' Bali Bird Park dan berkonsentrasi penuh pada Bali Elephant Safari Park. Sebuah keputusan yang terbukti tidak patut untuk disesali.

 

 

Selain bisnis 'petualangan,' Nigel dan yani juga mendirikan dan mengembangkan sebuah pabrik pembuatan boneka di Bali; yang sekarang telah memasuki tahun operasional ke dua puluh dua.

 

 

Perusahaan yang mereka rintis ini juga berada di balik kesuksesan sebuah film dokumenter yang diakui secara internasional: "Operation Jumbo." Film ini mendokumentasikan perjalanan panjang gajah-gajah, yang terancam kehidupannya, dari Sumatera ke Bali; sebuah perjalanan sejauh 3000 kilometer.

 

 

Di sela-sela kesibukannya, Nigel masih sempat menulis sebuah buku anak-anak yang cukup laris: "The Tale of the First White Elephant in Bali."

 

 

 

Kejenuhan dan rasa sakit akibat pernikahan yang gagal, membawa mantan eksekutif dari sebuah perusahaan rekaman dan elektronik asal Australia ini ke Bali.

 

 

Nigel Mason adalah salah satu dari segelintir ekspatriat 'konvensional,' yang datang ke Bali bukan karena uang, melainkan untuk menikmati gaya hidup yang lebih berimbang, dan dengan menjalani gaya hidup yang demikian pula lah, tanpa disadari ia juga turut berkontribusi dalam meningkatkan gaya hidup itu sendiri, kebanggaan serta masa depan dari setiap insan yang hidup di Bali.

  • Press Release

  • Kabar Terkini

  • Paket-Paket Menarik

 
 
 
 
Anda di sini: Home Pelopor Dalam Pariwisata Modern di Bali

bat logo

Adventure House
Jl. By Pass Ngurah Rai
Pesanggaran (80361)
Bali, Indonesia
Tel: (62-361) 721480
Fax: (62-361) 721481
e: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
w: www.baliadventuretours.com